Close

Kenapa harga BBM harus naik, adakah solusi lainnya ? Riset Published Data

Akhirnya pemerintah mengumumkan penyesuaian harga BBM pada tanggal 3 September 2022 dan mulai berlaku pada hari yang sama pukul 14.30 WIB. Seberapa besar dampak kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM ini pada bisnis rekan-rekan? 

Sebelumnya saya disclaimer dulu ya, bahwa artikel ini adalah wacana atau pendapat pribadi saya sebagai seorang praktisi data analyst (freelancer), tidak ada tendensi positif atau negatif terhadap kebijakan pemerintah dalam melakukan penyesuaian harga BBM. Artikel ini murni adalah untuk pengetahuan dan pembelajaran dengan mengumpulkan data-data yang sudah terpublikasi di media, kemudian mencoba melakukan hipotesa / analisa sederhana kenapa harga BBM harus naik.

Kenapa harga BBM harus naik ?

Dilansir dari detik.com memberitakan bahwa menurut Menteri Keuangan, Sri Mulyani dua alasan dua alasan utama mengapa harga bahan bakar minyak harus naik,

  1. Anggaran subsidi dan kompensasi BBM 2022 telah meningkat tiga kali lipat dari Rp 152,5 triliun menjadi Rp 502,4 triliun.
  2. Alasan kedua, kata Sri Mulyani, karena 70 persen BBM subsidi justru dinikmati kalangan mampu seperti pemilik mobil pribadi. Hal tersebut tentu menjadi beban, lantaran uang negara seharusnya diprioritaskan untuk kalangan yang tak mampu.

Menurut Sri Mulyani pemerintah telah berupaya sekuat tenaga melindungi rakyat dari gejolak harga minyak dunia.

Kata kunci  dari berita tersebut adalah meningkatnya subsidi untuk BBM.

Sementara dari arsip berita di laman kementerian ESDM yang dipublish tahun 2012, disebutkan bahwa alasan kenapa harga BBM harus dinaikkan adalah karena kebutuhan konsumsi minyak dalam negeri sudah melebihi produksi bbm dalam negeri sehingga harus mengimpor bbm dari luar negeri. Di laman tersebut, pada tahun 2012 data kebutuhan bahan bakar minyak dalam negeri setara dengan 1,4 juta barel per hari sedangkan dari produksi dalam negeri hanya sekitar 930 ribu barel per hari dan yang menjadi bagian Negara adalah 586 ribu barel per hari.

Kata kunci dari artikel tersebut adalah harus impor bbm untuk memenuhi konsumsi dalam negeri. Sementara harga impor minyak mentah (crude oil) tergantung dengan fluktuasi harga minyak mentah dunia.

Kebutuhan Vs penyediaan BBM

Jika kita tinjau dari ilmu ekonomi ( semua kita mempelajarinya waktu Sekolah Menengah ) bahwa ada hubungannya sebab akibat antara kebutuhan atau demand dan pemenuhan atau supply. 

Untuk bahan bakar minyak ini kondisi kebutuhan (demand) bbm dalam negeri sangat tinggi sementara penyedian (supply) masih kurang. Penyediaan akan konsumsi bbm ini harus tetap terjaga, makanya pemerintah perlu melakukan impor. Disaat harga minyak mentah dunia tinggi, maka nilai modal lebih rendah dari nilai jual, makanya harus disubsidi.

Ada satu berita yang sangat menarik dari laman kompas.tv dengan judul “Minyak Mentah Indonesia Dijual ke Singapura, Dibeli Lagi setelah Jadi BBM, Devisa Negara Terkuras”.

Saya yang awam jadi bingung ya? Katanya kita kekurangan pasokan minyak, tapi kok dijual ke negara tetangga untuk kemudian dibeli kembali setelah jadi BBM. 

  • Katanya kurang pasokan, kenapa dijual ya minyak mentahna
  • Yang diimport itu minyak mentah atau minyak yang sudah jadi (bbm) ya?

Masih dari laman yang sama, menyebutkan bahwa :

Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) atau perusahaan pengeboran minyak di Indonesia menjual minyaknya ke Singapura, lantaran kilang di Indonesia tak mampu menampung seluruh produksi minyak mentah di Tanah Air.

Yah, pantas saja minyak mentah dijual, proses penyulingan (kilang minyak) tidak cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan. Jadi dari data ini makin terlihat permasalahannya, Indonesia masih kurang tempat atau pabrik pengolahan minyak mentah menjadi bahan bakar minyak (bbm) siap pakai, yang lazim disebut kilang minyak. 

Data yang disajikan dari laman kompas.tv tersebut menyebutkan, kapasitas kilang minyak di Singapura mencapai 1,4 juta barel per hari. Sedangkan kapasitas pengolahan minyak di kilang Pertamina hanya sekitar 1,1 juta barel per hari. Data lainnya yang dilansir dari laman Antara bahwa SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi) mencatat angka produksi minyak mentah nasional sebanyak 616,6 ribu barel per hari (BOPD) sepanjang semester pertama tahun 2022.

Padahal kita semua tahu bahwa negara Singapura itu kecil ya dibandingkan dengan Indonesia, kenapa kita tidak membangun kilang minyak yang jauh lebih besar, ya setidaknya untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

Analisa data itu perlu untuk antisipasi perkembangan masa depan

Ini salah satu pentingnya ilmu analsia data statistik dimana bisa melakukan analisa prediksi (predictive analytics) sehingga bisa mengambil langkah antisipatif sejak dini. Coba kalau 20-30 tahun sebelum ini, Indonesia membangun kilang minyak, mungkin pemenuhan kebutuhan bbm kita bisa mandiri dan berdikari.

Kesimpulan dari riset data kenapa bbm “harus” naik

  1. Penyebab harga BBM naik karena untuk menyeimbangkan beban subsidi di APBN yang sudah meningkat 3 kali lipat
  2. Subsidi BBM masih belum tepat sasaran
  3. Kebutuhan konsumsi minyak dalam negeri (demand) lebih tinggi dari produksi dalam negeri (supply), namun pemenuhan kebutuhan dalam negeri ini harus tetap dijaga, jadi harus melakukan impor
  4. Kapasitas penyulingan minyak mentah menjadi bahan bakar minyak (bbm) di Indonesia tidak mampu menopang kebutuhan harian konsumsi BBM, jadi tetap import BBM ketimbang minyak mentah.

Usul solusi dari riset data terkait harga BBM :

Dari sektor hilir (penggunaan):

Hemat penggunaan BBM, buat kampanye nasional Hemat BBM. 

  • Kesadaran penggunaan BBM subsidi agar tepat sasaran
  • Konversi bbm ke energi yang lebih murah dan ramah lingkungan, misal penggunaan kendaraan listrik.

Dari sektor hulu (produksi)

  • Meningkatkan produksi bbm (penyulingan dari kilang minyak) di dalam negeri
  • Produksi dalam negeri jangan dijual keluar namun sedapat mungkin disuling dan dikonsumsi untuk dalam negeri
  • Daripada impor BBM dengan subsidi kemudian didistribusikan ke masyarakat, ini namanya kan membeli tinggi menjual murah (kan itung-itungannya rugi), kenapa tidak memberi kesempatan perusahaan minyak menjual langsung ke masyarakat seperti SPBU Vivo, Shell, BP (British Petroleum), malah pemerintah mendapat pajak dari penjualan

Sekali lagi ini bukan berarti saya tidak cinta BUMN milik Indonesia, atau saya menjadi afiliasi dari perusahaan SPBU asing ya. Ini murni dari pendapat pribadi dari kacamata ekonomi dan bisnis.

Daripada impor bbm dengan memberi subsidi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, mungkin lebih baik jika memberikan kesempatan perusahaan tempat impor bbm tadi langsung menjual bbm dengan harga keekonomian dan kita mendapat pajak atas penjualannya. Namun tetap harus ada kontrol dan regulasi dari pemerintah pada penjualan bbm dari sektor swasta. Sembari penambahan kilang minyak atau bahkan mencari sumber energi alternatif selain minyak bumi.

Penjabaran dalam bentuk video, juga tersedia di channel youtube saya BankBen, videonya dibawah ini

Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top